Thursday, February 18, 2010
Mengelola Pesantren?
Cukuplah sudah!
Sebulan waktunya untuk berfikir.
Akhirnya tawaran untuk mengelola sekolah Islamic Borading Schoolpun saya ambil juga.
Subhanallah, masih teringat pada saat ayahanda pernah berbicara kepada saya, lulus SD nanti kamu mondok di pesantren aja ya,
Saya pun menjawab mantap, ya!
Apa dinyana, saat kelas IV, ayahanda berpulang. Mimpi itupun sirna. Impian tinggallah impian.
Lantas apakah Allah tertidur dengan harapan dan doa ayahanda tsb?
Rahasia Allahpun terkuak, 30 tahun kemudian doa ayahandapun dijawab oleh Allah. Allah menjawab dengan pemberian yang lebih, Allah tidak memberikan saya kesempatan untuk mondok, tapi Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengelola pondok meskipun bukan pondok pesantern sebagaimana halnya. Allah memberikan kesempatan untuk mengelola Islamic Boarding School, yang menurut saya sudah lebih dari cukup.
Ya Insya Allah, di Islamic Boarding School SMA Unggulan Dai Annur inilah saya dapat memberikan kemanfaatan sebagaimana yang didoakan oleh ayah dan ibu.
Semoga Allah Meridoi
Empat setengah tahun terlewati sudah. Selama itu pula saya bergelut di medan asuransi syariah bersama Group Takaful Indonesia. Masih terngat 7 Februari 2005 adalah awal bergabungnya saya di group asuransi berbasis syariah yang pertama di Indoensia ini. Dan 12 Juli 2009 akhirnya saya memutuskan untuk resign dari group perusahaan yang telah memberikan banyak pelajaran buat saya, istri dan anak-anak semua.
Keputusan berat telah diambil, keputusan yang mungkin tidak popular (ambil istilahnya pilitikus) pun dengan terpaksa harus diajukan.
Masih terngiang di telinga ini, nasihat seorang sahabat karib teman kuliah di Fisika FMIPA UI, Agus Sudono seorang asli Pekalongan.
Saat ini beliau begitu sibuk berdakwah di dunia pendidikan bersama Nurul Fikri, group pelopor pendididkan islam modern saat ini.
Saat itu Agus Sudono menyampaikan nasihat
“Imam AlGhazali dalam sebuah bukunya menuliskan, ‘apabila kamu hendak mengambil keputusan maka tanyakanlah terlebh dahulu keputusan tsb pada hawa nafsumu, bila hawa nafsumu mengatakan YA, maka hindarilah keputusan tsb”.
Ya Allah semoga keputusanku bukanlah keputusan hawa nafsuku, Ya Allah semoga Engkau ridho terhadap keputusan ini.
Bagaimana tidak!, di Takaful lah saya mendapat pembelajaran tentang konsep kerja untuk ibadah, beda dengan konsep kerja adalah kehormatan sebagaimana diajarkan oleh orang Jepang ketika saya di SANYO.
Di Takaful pula saya mendapatkan pembelajaran bahwa kerja memiliki dimensi sosial. Di Takaful pula saya mendapatkan motivasi bahwa kemanfaatan lebih utama dibandingkan penghargaan.
Keputusan itupun saya ambil untuk dalam rangka meningkatkan kemanfaatan diri ini. Mata ini terbuka, hati ini pun terbuka bahwa nun di tanah kelahiran di sana, ada sekelompok masyarakat yang sangat membutuhkan kehadiran diri ini. Bahwa disana banyak orang yang membutuhkan sumbang tenaga, sumbang fikiran, sumbang ide-ide untuk kemajuan masyarakat Indramayu.
Ya Allah semoga Engkau meridhoi niat di hati ini. Ya Allah bersihkanlah niat ini agar terbebas dari segala kepentingan yang membelenggu akal dan fikiran sehat ini. Amin.
Lama Tak Basua
Lebih dari 6 bulan blog ini tak terjamah.
Banyak yang kirim tanya, banyak juga yang komen, koq enggak muncul-muncul artikel lainnya?,
Subhanallah semenjak keputusan resign dari Group Takaful Indonesia 12 Juli 2009, semenjak itu pula blog ini tak tersentuh.
Kesibukan ataupun ketiadaan waktu bukanlah alasan yang bijak untuk dikemukakan. Kejenuhan, juga bukan alas an yang tepat, mungkin kemalasan untuk berbagi dengan sesama barangkali yang sedikit nyerempet bener.
Ya Allah semoga tulisan ini menjadi awal untuk membuka kembali aliran semangat untuk berbagi. Semoga diri ini mendapatkan hikmah dan keberkahan dari aliran semangat tsb. Amin
Tuesday, August 25, 2009
Harus Bisa!!
Bulan Ramadhon bulan untuk memantapkan tekad, bulan untuk membulatkan itikad, meluruskan niat, memfokuskan pada goal bukan pada problem.
Bismillah ya Allah, aku mulai menapaki jalan sebagaimana yang diajarkan oleh ayahanda almarhum, Aku harus bisa lebih bermanfaat lagi, Aku pasti bisa, gusti Allah mboten sare'.
Aku bermanfaat maka Aku ada. Amin
Konvensi QCC di Direktorat Industri Elektronika, Ditjen Industri Alat Tranportasi dan Telematika (IATT) Departemen Perindustrian.
Alhamdulillah Konvensi QCC akhirnya terlaksana juga. Pagi tadi Rabu 19 Agustus 2009 konvensi QCC yang menampilkan team QCC dari PT. Maber Teknindo dan PT Dikolite berlangsung di Ruang Meeting Lt 12 Gedung Departemen Perindustrian Jl. Gatot Subroto 54-55 Jakarta.
Konvensi ini merupakan unjuk tampil 2 group yaitu Group BIAWAK dari PT. MABER Teknindo yang berlokasi di Jl. Pillar No. 38 Cikeas Udik, Gunung Putri, Bogor 16966 Jawa Barat Telp. (021) 8674464, Fax. (021) 8674412 (Website: www.mabertek.com), terdiri dari Mas’ud, Jadang, Suparman, Ahmad Sahri, Corina Pratiwi dan Sri Budi Purnomo. Sedangkan Group Mede dari PT. Dikolite yang berlokasi di Jln. Mede No 32 RT 02 / 07 Sukatani Cimanggis Depok Telp: 8743068 - Fax : 8741000, terdiri dari Nasrudi, Neman, Adi Sofyan, Asep dan Sarwani.
Kegiatan QCC di kedua perusahaan tersebut merupakan bantuan tekhnis Departemen Perindustrian dalam hal ini Direktorat Industri Elektronika, Ditjen Industri Alat Tranportasi dan Telematika (IATT) Departemen Perindustrian. Kegitan dimulai dari Kick Off pada 22 Mei 2009 hingga Konvensi tanggal 19 Agustus 2009. Ini merupakan yang keenam kalinya bagi saya ditunjuk sebagai konsultan Departemen Perindustrian untuk melaksanakan bantuan tekhnis kepada industri di dalam binaan Depertemen Perindustrian.
Kegiatan pembekalan yang diberikan kepada kelompok QC Circle meliputi:
- Tiap-tiap perusahaan membentuk team improvement.
- Masing-masing team menginvertarisir beberapa masalah yang potensial untuk diangkat sebagai project Improvement.
- Konsultan secara langsung terlibat dalam menganalisa dan membantu memberikan solusi masalah.
- Kegiatan konsultasi dilakukan selama 3 (tiga) bulan dengan target perbaikan : Pengurangan reject, Perbaikan mesin, perapihan tempat kerja (termasuk lay outnya) dan efisiensi kerja.
Untuk menunjang kegiatan, kelompok QC Circle diberikan materi yang meliputi
- GEMBA KAIZEN.
- PDCA (DELAPAN LANGKAH PERBAIKAN)
- BASIC MENTALITY
- QC SEVEN TOOLS
- SUGESTION SYSTEM (SS)
- INDUSTRIAL ENGINEERING
- MUDA MURA MURI (3M)
- SEIRI SEITON SEISHO SEIKETSU SITSUKE (5S)
Hasil yang dicapai oleh kedua kelompok sungguh sangat membanggakan. Kelompok Biawak melakukan:
•MODIFIKASI BUSHING SWING ARM MESIN AUTO LETHE
•STANDARISASI PENGASAHAN TOOLS
•PEMBUATAN JIG UNTUK MENGECEK KETEBALAN SPRING RETAINER
Hasilnya adalah :
- TOOL PUNCH PATAH BERKURANG DARI 7 PCS (BULAN JUNI 2009) MENJADI 3 PCS (BULAN JULI 2009).
- JUMLAH barang NG KETEBALAN SPRING RETAINER BERKURANG DARI 14898 PCS (1,65 %) DI BULAN JULI 2009 MENJADI 6428 PCS (0,57 %) DI BULAN JULI 2009.
PT. Maber Teknindo adalah perusahaan berukuran menengah dengan jumlah karyawan sebanyak 113 orang dan memproduksi produk presisi untuk electric dan electronic.
Adapun kelompok Mede melakukan:
- MENATA ULANG AREA KERJA
- TRAINING AWARENESS QCC KEPADA KARYAWAN
- MEMBUKA JARINGAN PEMASARAN DENGAN MASUK YELLOW PAGES
Diharapkan dengan melakukan perbaikan di atas, PT Dikolite mendapatkan:
- CALON CUSTOMER YANG MENGENAL PT. DICOLITE MENJADI LEBIH BANYAK.
- PEKERJA MENJADI LEBIH PEDULI TERHADAP LINGKUNGAN KERJA.
- PEKERJA MENJADI LEBIH TERATUR DALAM BEKERJA.
- PEKERJA SUDAH MULAI BERPIKIR TENTANG PERBAIKAN.
Perlu diketahui PT. Dikolite adalah UKM berukuran kecil (jumlah karyawan 9 orang). Hasil produksi perusahaan ini adalah produk berbasis almunium untuk supporting produk lampu.
Selamat kepada semua pihak yang telah menyukseskan acara ini. Semoga ilmu yang disharingkan bermanfaat buat kemajuan Bangsa Indonesia.
Monday, April 20, 2009
Ketika Hari Kartini 21 April Tiba?
Lusa nanti tepat tanggal 21 April. Hari yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia. Saat itu, kita akan memperingati Hari Kartini. Kartini yang dimaksud adalah tokoh perempuan Indonesia yang selalu diidentikkan dengan Tokoh Emansipasi Wanita.
Benarkah demikian?.
Entah siapa yang memeloporinya, seolah-olah Kartini identik dengan martabat wanita, kesetaraan gender, emansipasi wanita dan sebutan-sebutan lainnya.
Sesungguhnya yang demikian itu terjadi setelah terbit sebuah buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang yang ditulis oleh Armijn Pane (Balai Pustaka) ref
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0304/19/pustaka/263526.htm.
Buku tersebut berisi sebagian surat-surat yang ditulis oleh Kartini kepada teman wanitanya yang berkebangsaan Belanda. Benarkah demikian?. Wa Allahu Alam Bishowab.
Beranjak dari hal tersebut. Kita sering melihat pada saat kita merayakan Hari Kartini, kita seakan-akan berlomba-lomba menampilkan profil wanita karir, wanita pengusung emansipasi dan profil wanita-wanita “modern” lainnya.
Sebut saja wanita yang menjadi pilot, wanita pimpinan TNI - POLRI, wanita peneliti, wanita jaksa dsbnya.
Layakkah mereka disebut penerus cita-cita Kartini?
Biarlah dunia yang menilainya.
Lalu bagaimana penilaian saya?
Bagi saya ibunda Rokayah lebih dari seorang Kartini.
Beliau segala-galanya bagi kami.
Ibunda terlahir dengan nama Rokayah di sebuah daerah bernama Kandanghaur Indramayu, tepatnya di daerah Parean Bulak, 35 KM sebelah barat Kota Indramayu.
Ibunda terlahir di tahun 1946 dari pasangan Bapak Rasjan dan Ibu Tasmi. Bapak Rasjan dan Ibu Tasmi adalah keluarga kaya untuk ukuran Parean Bulak, sawahnya berhektar-hektar. Seluruh anaknya menikah dengan pilihan mereka. Ironisnya anak-anakanya tersebut dijodohkan dan menikah dengan para buruh pekerja sawahnya. Saat itu Bapak Rasjan berpendirian bahwa lelaki yang kuat dan tekun bekerja di sawah akan menjadi suami yang baik buat anak-anaknya.
Jadi ukuran baik dan buruk seorang calon menantunya adalah dari ketekunan dan kekuatan bekerja mengelola sawah yang berhektar-hektar.
Seluruh anak perempuan mengikuti apa saja yang digariskan oleh Bapak Rasjan. Tidak demikian dengan Ibunda Rokayah. Selepas SR (Sekolah Rakyat) atau setara dengan SD pada saat ini, ibunda berharap dapat meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Jelas hal ini bertentangan dengan kemauan orang tua. Ibunda harus menikah dengan buruh sawahnya.
Ibunda akhirnya “kabur” menuju Indramayu. Ibunda mencari pondok pesantren untuk belajar agama. Dia mendapatkannya di Daerah Singaraja. Bapak Rasjanpun marah, beliau menjemput ibunda dan memerintahkannya untuk pulang dan menikah dengan lelaki pilihannya. Ibunda keukeh, dia mau meneruskan sekolah dulu, dia mau belajar agama lebih banyak lagi. Bapak Rasjan pun akhirnya mengalah, maklum sebenarnya Ibunda Rokayah adalah anak kesayangannya. Ibundapun akhirnya dapat menyelesaikan sekolah agama setaraf SMP.
Alhamdulillah justru di sanalah akhirnya Ibunda mengenal seorang lelaki bernama Agus Sirad. Lelaki yang akhirnya menjadi tambatan hatinya.
Apakah cerita kaburnya Ibunda dari rumahnya dan pembangkangan terhadap perintah orang tuanya yang menjadi dasar saya untuk menyebut Ibunda Rokayah sebagai seorang pahlawan wanita? Apakah keteguhan Ibunda Rokayah untuk menuntut ilmu agama terlebih dahulu sebelum memutuskan menikah dengan seorang lelaki, yang menjadi alasannya?
Bukan!, bukan itu yang menjadi alasan utama.
Dalam artikel sebelumnya, saya telah menuliskan bahwa Ibunda Rokayah dan Ayahanda Agus Sirad telah dikaruniai sebelas anak. Keempat anaknya yang masih balita, seluruhnya meninggal dunia tanpa sebab. Tepat dua tahun dari kematian pertama anaknya, ayahanda Agus Siradpun menyusul. Kami tidak memungkiri, salah satu penyebab kematian ayahanda adalah karena kondisi kejiwaan dan psikologi akibat kematian ke-empat anaknya yang masih balita secara beruntun.
Kematian beruntun 5 orang yang sangat dicintai dalam masa dua tahun berarti pula Ibunda Rokayah ditinggal oleh orang-orang yang disayanginya rata-rata setiap 5 bulan sekali. Allahu Akbar.
Saya masih ingat betul deretan kematian adik-adik saya bahkan ada yang berjarak kurang dari 2 bulan.
Kalo bukan wanita pilihan Allah, mana mungkin ibunda akan sekuat itu.
Ibunda terlahir dari keluarga berkecukupan bahkan bisa dibilang orang kaya di Daerah Parean Bulak. Ketika berumah tanggapun keluarga kami terbilang berkecukupan. Ayah meskipun seorang pegawai Pemda Indramayu, tetapi di sela-sela kesibukannya dia masih bisa mengelola CV. Indra Karya, perusahaan kontraktor bangunan yang cukup disegani di daerah Indramyu saat itu. Ayah juga mengelola usaha pasir, dia memiliki pangkalan pasir di daerah Terisi. Di Jakarta ayah memiliki usaha Becak, usaha transportasi yang bisa dibanggakan pada saat itu. Ayah juga memiliki angkutan kota dengan trayek Patrol – Indramayu. Di belakang rumah, ayah memiliki peternakan bebek alabio. Tidak itu saja, gudang di belakang rumahpun diubah oleh ayah untuk menjadi tempat pembibitan jamur merang. Hampir seluruh usaha ayah dikelola oleh saudara-saudaranya. Orang-oarang yang ternyata tidak amanah. Orang yang hanya memahami ilmu sebatas pengetahuan bukan untuk diamalkan. Kelak ketika ayah meninggal, kami sekeluarga tidak mengetahui lagi kemana seluruh asset usaha ayah tersebut. Kemana dan dimana paman-paman, uwa-uwa kami tersebut mengelola usaha ayah? Hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui.
Ketika ayah meninggal dunia, satu-satunya warisan yang tersisa adalah sebidang tanah berukuran 3 x 3 meter. Tanah yang kemudian dibuat menjadi tempat tinggal kami. Kehidupan ibunda berubah seratus delapan puluh derajat. Dari seorang Ibu rumah tangga berkecukupan menjadi seorang wanita pembantu rumah tangga, seorang pedangang kue, seorang penjaga toko di bilangan Senen Jakarta Pusat, seorang pengantar garam dari Eretan Indramayu ke Pasar Kramat Jati Jakarta, seorang pedagang kerupuk udang dan terasi Indramayu. Semua dilakukannya untuk menghidupi kami semua. Saat ayah meninggal dunia. tahun 1979, Yu Yati – kakak tertua baru duduk di kelas 3 SMEA. Yu Ros, kakak kedua duduk di kelas 1 SMA. Di bawahnya lagi Yu Ipah, kelas 2 SMP, Yu Sri, kelas 5 SD, saya kelas 4 SD. Kedua adik saya masing-masing Alfiyah kelas 2 SD dan Gus Abdullah kelas 1 SD. Saat itu ibunda bertekad seluruh anak-anakanya harus selesai sekolah. Tidak boleh ada satupun dari anak-anaknya yang putus sekolah.
Saat ini, ketika Hari Kartini tahun 2009 diperingati, kami anak-anaknya dengan berbangga hati menceritakan kepada seluruh dunia, kepada seluruh wanita di belahan bumi manapun. Kepada seluruh ibu siapapun bahwa berkat bimbingan yang baik dari seorang wanita yang penuh tawakal dan sabar saat ini telah lahir seorang cucu yang telah hafal 25 (Dua Puluh Lima) Juz Alquran – santri teladan di Pondok Pesantren AlMultazam Kuningan. Seorang cucu yang hafal 5 (empat) juz Alquran – calon lulusan terbaik pula dari Pondok Pesantren Al Multazam Kuningan - calon pengusaha muslim terbaik. Seorang cucu yang hafal 2 (dua) juz Alquran – calon perekayasa technologi dunia. Seorang cucu bergelar Sarjana Fisika. Seorang cucu calon pakar IT lulusan CCIT FT UI.
Tidak sia-sia apa yang telah dilakukan oleh Ibunda Rokayah. Mari bandingkan apple to apllenya. Bila pendidikan yang menjadi indikator maka pada saat ayah meninggal dunia tahun 1979. Satu anak di kelas 3 SMEA, satu di kelas 1 SMA, satu di kelas 2 SMP, satu di kelas 5 SD, satu di kelas 4 SD, satu di kelas 2 SD dan satu di kelas 1 SD. Saat ini pada tahun 2009 mereka telah menjadi: satu orang lulusan bergelar Sarjana Fisika dan Master Sains, 4 orang bergelar S1, 2 orang berpendidikan SLTA.
Seandainya status yang menjadi indikator maka atas bimbingan dari seorang Ibunda Rokayah telah lahir 3 orang berstatus manager seorang diantaranya adalah dosen di Universitas Indonesia, seorang guru SMP teladan, seorang guru SD. Alhamdulillah, seluruh dari mereka memiliki predikat pekerja yang terbaik di lingkungannya.
Kalo interpersonal yang menjadi ukuran, Ibunda adalah sosok yang sangat disegani di lngkungannya. Sosok seorang Ibu Haji yang selalu mengedepankan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan diri sendiri. Sosok yang tidak pernah meminta kepada orang lain untuk dikasihani. Itulah alasannya mengapa ibadah haji yang dia lakukan beberapa tahun yang lalu, dia lakukan dengan cara menabung tanpa pernah memberitahukannya kepada orang lain bahkan kepada kami, anak-anaknya. Ibunda memberikan kabar niat hajinya kepada kami setelah persyaratan keuangan dapat dia penuhi. Allhu Akbar, betapa berdosanya kami, anak-anaknya yang tidak mengetahui sedikitpun tentang hal ini.
Jadi apa yang menjadi indikator untuk dikatakan sebagai wanita penerus Kartini?, saya serahkan sepenuhnya kepada anda semua.
Semoga hikmah yang baik senantiasa menyertai kisah kehidupan kita semua.
Amin
Monday, April 13, 2009
Ya, Allah tambahkan nikmat kesabaran kepada kami.
Kamis 2 April 2009 pagi menjelang berangkat ke kantor. HP pun berbunyi nyaring.
“Dos, telepon balik kesini ya, pulsa ku sudah mau habis!”,
Sahut di seberang sana. Saya mengenali suara itu, Yu Sri kakak saya.
Sayapun menelepon balik ke Yu Sri.
“Assalamu alaikum”, saya buka pembicaraan.
“Wa alaikum salam, Dos, ini mimi mau ngomong, kata Yu Sri.
HP yang saya pegang sedikit bergetar, tidak biasanya pagi-pagi begini mimi mau menelepon saya.
“Dos, mimi lagi sakit, sekarang mimi lagi dirawat di Rumah Sakit”, mimi memulai pembicaraan.
Suaranya parau, bergemetar, sambil diiringi isak tangis. Tak kuasa saya mendengar suara mimi.
“Mimi sakit apa?”, saya mencoba untuk menguatkan diri agar mimi tidak semakin sedih.
“Tidak tahu, mimi banyak bebanyuan”, sahut mimi.
Ya, saya membayangkan bebanyuan berarti mimi banyak mengeluarkan air ataupun baung-buang air.
“Oh gitu ya mi, ya udah insya Allah saya secepatnya ke Indramayu, jawab saya.
Begitulah mimi semenjak usianya menginjak 60 tahunan, bila sedikit merasa sakit, selalu saja mimi mencoba menghubungi saya, insya Allah, saya selalu ikhlas untuk datang menjenguk mimi, apapun kondisi saya.
Pagi itu saya berusaha menyelesaikan tugas saya di kantor. Saya membagi tugas staff saya dan memastikan staff saya dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan baik. Sejurus kemudian saya meminta ijin Dirut untuk menjenguk mimi.
Tepat pukul 10 sayapun meluncur dari area Mampang. Alhamdulillah, daerah yang biasanya super macet, pada hari itu ternyata sangat lancar. Selepas perempatan Tendean, Soluna Toscapun saya arahkan ke pintu toll, Alhamdulillah di jalur inipun tidak ada kemacetan. Saya jaga speedometer pada angka 110, saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan kondisi mimi saat itu agar saya dapat focus pada perjalanan saya. Sesekali saya lihat speedometer menunjukan angka 120, pada saat itulah kaki kanan saya kendurkan dari pedal gas agar speedometer tetap di kisaran 100 dan 110.
Senandung Asmaul Husna Ari Gynandjarpun sepanjang perjalanan terdengar dari Pioneer Tosca. Alhamdulillah tepat jam 13.00 saya sudah nyampe di Rumah Sakit Umum Indramayu.
Di Ruangan VIP A saya mendapati mimi terbaring. Yu Ros, Mas Aman, Yu Sri, Yu Ipah dan Piyah sudah ada di dalam ruangan.
“Assalamu alaikum”, saya membuka pintu.
“Wa alaikum salam, yang di dalam ruangan pada nyaut menjawab”.
“Nah itu Om Idos datang”, suara mimi dengan parau,seolah ingin mendahului yang lain.
“Jam berapa dari Jakarta, Dos”, Tanya Mas Aman.
“Tadi jam sepuluh, Alhamdulillah tidak macet”.
“Mimi gimana kabarnya?”.
“Masih lemah, gulanya sudah mulai turun, tadi pagi sudah 390, tapi tensinya masih tinggi 180”, jawab Yu Ros.
Mimi memang terlihat lemah, kerutan kulit di wajah tampak terlihat jelas, tapi di sudut-sudut kerutan itu pula saya melihat ketegaran seorang ibu yang sabar dan ibu yang tawakal.
Yah, mimi memang punya gula, sdikit saja makannya tidak terkontrol maka gulapun naik. Mimi bercerita beberapa hari sebelumnya mimi takziah ke tetangga yang meninggal. Beberapa hari, mimi ikut membantu di rumah orang tersebut. Saat itulah makanannya tidak terkontrol, mungkin juga mimi kelelahan.
Ya Allah saya bersyukur kepadaMu meskipun usia mimi mulai lanjut, namun semangat mimi untuk berbagi dengan sesama tidaklah luntur. Semoga bagian tubuhnya yang dirasakannya sakit saat ini, dapat menjadi saksi kepadaMu bahwa sakitnya bagian tubuh tersebut adalah karena amal baik ibu kepada sesamanya.
Dua malam saya menyempatkan diri untuk tidur di rumah sakit untuk mendampingi mimi.
Ya Allah, saya menyadari sepenuhnya bahwa dua malam begadang di rumah sakit tidak sebanding dengan apa yang mimi lakukan terhadap diri saya dahulu.
Untuk itu mohonkan ampun diri ini, bila masih belum sepenuhnya membalas budi baik mimi.
Hari ke-empat akhirnya dokterpun mengijinkan mimi untuk pulang. Alhamdulillah hari itu juga saya sudah bisa pulang kembali ke Depok. Semoga apa yang telah terjadi dapat menjadi pembelajaran buat kami sekeluarga.
Amin.
Pembelajaran dari Mang Casmadi Pedagang Bubur Ayam di Bojongsari Indramayu
Jumat malam 3 April 2009, Mas Aman mengajak saya untuk makan bubur ayam Mang Casmadi. Selepas magrib kami berangkat menuju lokasi dagangan Mang Casmadi yaitu di area sekitar taman wisata Bojong Sari Indramayu. Menurut Mas Aman, kita harus buru-buru kesana karena biasanya selepas jam 8 malam bubur ayam biasanya sudah habis.
Area wisata air Bojong Sari sebenarnya adalah bekas aliran Sungai Cimanuk yang melintasi dalam kota Indramayu. Setelah dibuatnya waduk di sekitar Bangkir, aliran air Sungai Cimanuk Di dalam Kota Indramayu menjadi mati. Air Sungai Cimanuk tidak lagi mengalir di dalam Kota Indramayu. Apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah Indramayu beberapa puluh tahun yang lalu ini, sekarang ditiru oleh pemerintah DKI Jakarta melalui proyek Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat. Sayang proyek ini sampai dengan saat ini belum berjalan mulus.
Di area jalan tembus Bojongsari dan Desa Dukuh inilah Mang Casmadi sekeluarga mangkal. Dongdangan bubur ayam dan soto ayam Mang Casmadi sebenarnya tidaklah besar. Tetapi dari para pelanggan yang datang, saya bisa memperkirakan bahwa pelanggan Mang Casmadi sangatlah bervariasi. Ketika saya memarkirkan Soluna Tosca, di area pinggir jalan sudah bertengger 3 buah kendaraan berplat nomor Jakarta. Sayapun sempet menghitung jumlah motor yang parkir di pinggir jalan. Pas berjumlah 17 buah. Luar biasa….. berarti pelanggan Mang Casmadi sangatlah banyak.
Semangkok Bubur ayam lengkap dengan krupuk udang khas Indramayu bisa dinikmati hanya dengan Tiga Ribu perak. Wuih murahnya, tidak sebanding dengan rasa dan aromanya. Asin dan manisnya bubur, pas dengan selera kita.
Saat menikmati bubur ayam itulah Yu Ros bercerita. “Temannya Mas Aman pernah nanya ke Mang Casmadi”.
“Mang, resepnya apa?,koq bubur ayamnya bisa enak seperti ini, saya ngeliat pelanggannyapun tidak pernah sepi”.
“Saya engga punya resep apa-apa, pak”.
“Iya, tapi kenapa dagangannya bisa laris seperti ini?”
“Mungkin itu karena kami sering shalat tahajud pak”, jawab Mang Casmadi.
Saya cukup kaget mendapatkan cerita dari Yu Ros. Ya Allah Engkau Maha Benar. Engkau Maha Pengasih. Engkau Mendekati hambuMu yang selalu mendekati Mu.
Ya Allah jadikan cerita hidup Mang Casmadi menjadi pembelajaran buat kami sekeluarga. Amin.
Tuesday, March 10, 2009
Libur Maulid Nabi Muhammad SAW, Ajang Silaturahmi Keluarga
Libur Maulid Nabi Nabi Muhammad SAW 1430 H, benar-benar kami manfaatkan. Ajang silaturahmi dengan AA Fatih di Pondok Pesantren Al Multazam, silaturahmi dengan Bapak – Ibu mertua dan silaturahmi dengan ibunda serta kakak adik semua. Adik saya Gus Abdullah yang tinggal di Bandung juga menyempatkan diri untuk silaturamhi dengan keluarga. Kita ketemuan di Idramayu. Alhamdulillah semua sehat-sehat aja. Alhamdulillah semua lancar-lancar saja.
Masih terngiang kehidupan puluhan tahun lalu saat kami baru saja di tinggal ayahanda tercinta.
Untuk itu semua saya kembali merunut kisah kehidupan kami, semoga kisah ini dapat semakin merekatkan silaturahmi anak cucu kami, dapat pula menjaga hati-hati kami bahwa apapun yang kita rencanakan hanya allah SWT yang menjadi tujuan hidup, sandaran hidup dan pegangan hidup., amin.
Keberkahan
Abdul Fadhil Abu Al-Hamd1, menjelaskan bahwa makna berkah (Al Barokah) ialah berkembang dan bertambah. Harta yang berkah akan dapat berkembang biak. Dia dapat beranak pinak sebesar yang dikehendaki oleh Allah SWT. Berkah juga berarti berkembang menjadi lebih besar.
Bila diandaikan sebuah pohon maka harta yang berkah akan membuat pohon tumbuh besar dengan batang, dahan dan ranting yang makin bertambah banyak dan besar. Daun pohon akan rindang, bunga dan buahnya akan bermanfaat bagi orang disekitarnya. Bukan itu saja, pohonpun akan tumbuh menjadi rumpun pohon yang siap sedia digunakan oleh siapapun yang memerlukannya.
Tumbuh dan berkembang memang merupakan salah satu sifat harta. Di sisi yang lain, harta juga dapat menyusut, mengecil dan setelah itu habis, ludes, nol!, tidak berbekas sama sekali!.
Kita bisa melihat di kehidupan sehari-hari, harta yang dikumpulkan oleh seseorang, pada awalnya tumbuh menjadi banyak, hingga mencapai suatu titik maksimum. Setelah itu harta sedikit demi sedikit berkurang, menyusut, mengecil hingga harta habis tak berbekas.
Penjelasan di atas menunjukan bahwa harta bersifat reversible. Artinya dia bisa kembali ke posisi awal. Berbeda dengan tumbuhnya badan kita yang irreversible. Yang saya maksud dengan irreversible adalah suatu proses yang tidak bisa kembali ke bentuk awal atau posisi awal. Tentu kita tahu, ketika kita lahir dari rahim seorang ibu, kita hanyalah seorang bayi kecil. Lalu kita tumbuh menjadi dewasa. Nah bila sudah dewasa tentunya kita tidak bisa kembali masuk ke dalam rahim ibu bukan?.
Nah berbeda dengan badan kita, harta bisa tumbuh dan berkembang, namun tumbuhnya harta adalah reversible. Dia bisa kembali ke posisi awal bahkan dia bisa sampai ke titik nol. Proses reversible harta ini dipengaruhi oleh keberkahan yang dikandung oleh harta tsb. Seseorang yang memperoleh harta dengan cara yang tidak baik dan tidak benar akan menyebabkan harta menjadi tidak berkah.
Saya ambil contoh harta yang diperoleh orang dengan cara korupsi. Diawalnya harta tsb berlimpah, dia dapat dengan cepat mengumpulkan harta dalam bentuk kendaraan, rumah mewah, deposito, aset usaha dsbnya. Ketika tiba waktunya, yaitu pengadilan memutuskan bahwa dia harus dipenjara. Semua hartanya disita. Istrinya menjadi stress. Anakpun terlibat narkoba dstnya. Nauzdu billahimindzalik.
Berkah juga memiliki arti kebahagiaan. Harta yang berkah akan menjadi adem bagi kehidupan diri sendiri, keluarga maupun orang-orang di sekitarnya. Ademnya harta akan menghasilkan kebahagiaan bagi yang memakainya. Kita bisa melihat kehidupan satu keluarga yang dihidupi dengan harta yang berkah. Keluarga tersebut menjadi harmonis. Ada rasa saling menghormati diantara suami, istri dan anak.
Berkah juga berarti senantiasa menambah kebaikan dan memberikan nilai tambah pada segala sisi kehidupan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang di sekitarnya. Pada salah satu kesempatan, saya pernah berbincang dengan Bp. Yance, Bupati Indramayu. Beliau menceritakan tentang program pendidikan berupa beasiswa yang telah dilakukannya di Indramayu. Menurut penuturan beliau, program tersebut telah menghasilkan dokter dan insinyur. Banyak dari mereka adalah anak-anak dari keluarga yang tidak mampu bahkan beberapa diantaranya adalah anak tukang becak. Subhanallah!, kalo bukan karena keberkahan harta, tidaklah mungkin seorang tukang becak dapat menyekolahkan anaknya hingga menjadi seorang dokter atau insinyur.
Dampak dari keberkahan harta sering menghasilkan sesuatu yang tidak terduga dan sesuatu yang tidak masuk akal. Pada salah satu ayat yaitu di QS Hud 11: 72 – 73 dijelaskan:
72. isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, Apakah aku akan melahirkan anak Padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam Keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
73. Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."
Sesungguhnya sesuatu bisa dikatakan aneh dari sudut pandang manusia, namun bagi Allah SWT, sesuatu tersebut adalah sangat mudah.
Untuk mendapatkan keberkahan, biasanya Allah SWT juga akan menguji hambanya terlebih dahulu. Masih ingat cerita Siti Hajar istri Nabi Ibrahim AS?. Saat itu dia ditinggalkan di tengah padang pasir. Siti Hajar tidak dapat menyusui Ismail karena air susunya sudah tidak keluar. Dia harus mimum. Untuk itu dia berlari-lari mencari sumber air. Bergerak dari Shofa ke Marwah, bolak-balik sampai kemudian ternyata sumber mata air zam-zam justru dikeluarkan oleh Allah SWT di dekat kaki Ismail yang ditinggalkannya. Subhanalllah!.
Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah (HR. Ahmad)
Mesti diingat pula bahwa tidaklah kita diberikan keberkahan oleh Allah SWT kecuali bila kita menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Sebagaimana dijelaskan pada QS 7: 96:
Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Popular Posts
-
Komunitas Forum Hidup Berkah (FHB) digagas oleh Bapak Syamsul Arifin Chief Inspirator. Beliau adalah Direktur Utama PT. Balimuda Persada. Se...
-
Senin 15 Juni 2015 Alhamdulillah kami sekeluarga diberikan kesempatan Allah SWT untuk menikmati tol Cikapali (Cikampek Palimanan). P...
-
SHOLEH CERDAS BERSAHABAT TERBUKA BAGI SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS Bismillah Alhamdulillah, SDIT Ramah Anak Da’i al-Nur ...
-
Tanggal 8 April 2013 menjelang kelahiran tanggal 11 April adalah momen terindah. Sidang Promosi Doktor Ekonomi Islam di Sekolah Pascas...
-
Siklus PDCA adalah dasar dari penerapan Total Quality Management (TQM). Siklus ini terdiri dari langkah Plan – Do – Check – Action. Artinya...
-
Alhamdulillah, Tazkia Travel di bawah manajemen PT. Tauba Zakka Atkia, saat ini sudah berada di sekitar Indramayu. Tazkia Travel Haji Um...
-
Alhamdulillah pada Hari Selasa 21 September 2010 bertempat di gedung Kementrian Perindustrian telah dilaksanakan konvensi Quality Con...