Saturday, September 24, 2011

Firdaus NamaKu, Firdaus Kampung Halamanku



Firdaus Namaku
Achmad Firdaus adalah nama saya. Saya adalah anak ke – 5 dari 11 bersaudara. Diantara ke sebelas bersaudara tersebut, saya adalah anak laki-laki tertua di keluarga. Semua kakak saya perempuan dan adik-adik saya lima perempuan dan satu laki-laki. Ibu dan kakak pernah bercerita kepada saya bahwa saya terlahir dengan nama Toto Sugiharto. ”Lah, mengapa ayah menamakan saya dengan nama Toto Sugiharto?”, tanya saya.

Lantas ibupun bercerita bahwa menjelang kelahiran saya, bisa dikatakan bahwa perekonomian keluarga kami sedang mencapai masa puncak tertinggi. Ayah disamping bekerja sebagai pegawai PEMDA Indramayu juga memiliki banyak usaha seperti CV Indra Karya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor bangunan. Banyak gedung dan bangunan yang telah ditangani oleh perusahaan ini. Gedung SD Inpres di berbagai lokasi di Indramayupun telah dibangun.

Ayah juga memiliki usaha transportasi berupa angkutan kota. Trayek angkutan kota yang dilayaninya adalah Indramayu – Patrol. Sementara kegiatan usaha transportasi lainnya adalah becak. Ayah banyak memiliki becak di Jakarta. Usaha becak ini dikelola oleh kakaknya yang tinggal di Jakarta. Pada tahun enampuluhan, memiliki banyak becak merupakan bisnis yang pantas untuk dibanggakan.

Di belakang rumah, ayah juga memiliki banyak ayam maupun bebek yang bisa dijadikan penghasilan tambahan. Bukan itu saja ayah juga memiliki usaha pasir kali. Pangkalan galian pasir inipun dikelola oleh saudaranya juga. Sementara di area belakang rumah ayah juga memiliki usaha pengembangan jamur merang.

Itulah alasan ayah mengapa ketika saya lahir, ayah menamakan saya dengan nama Toto Sugiharto, yang artinya sugi harta (kaya dengan harta). Aneh memang, mengapa ayah menamakan saya dengan nama yang tidak ”berbau islam”, sebagaimana halnya yang ayah lakukan pada ke-empat kakak saya.

Singkat cerita, pada saat saya berusia balita, menurut penuturan ibu, kami sekeluarga kedatangan seorang tamu berperawakan tinggi besar, dengan wajah dan pakaian mirip orang Arab. Beliau mengaku sebagai kawan dekat kakek saya, KH Sirad. Seorang Ustadz yang cukup punya nama untuk kawasan Indramayu dan sekitarnya pada masanya. Menurut orang tersebut, dia adalah teman baik kakek saya ketika berada di Arab. Ibu bercerita bahwa kakek memang pernah tinggal beberapa lama di Arab untuk menuntut ilmu. Orang tak dikenalpun mengutarakan maksud kedatangannya yaitu untuk bersilaturahmi dengan kakek. Namun sayang, saat dia datang ke rumah, kakek saya sudah wafat.

Ketika melihat saya, diapun menanyakan nama saya. Ayah lantas menyebutkan nama saya yaitu Toto Sugiharto. Ayah meskipun tidak lancar berbahasa Arab namun masih bisa berkomunikasi dengan sahabat kakek tersebut. Mendengar nama Toto Sugiharto, lantas orang tersebut membopong saya, meletakan badan saya dengan posisi tengkurab di atas kedua pahanya. Di atas punggung saya, sahabat kakek menuliskan suatu rangkaian huruf Arab. Ayah, ibu dan kakak mencoba memahami liukan jari sahabat kakek tersebut. Lantas ayah mencoba membaca liukan jari sahabat kakek. ”Achmad Firdaus?”, tanya ayah. Pertanyaan ayahpun dijawab dengan anggukan kepala oleh sahabat kakek tersebut. Sejak saat itu pula saya berganti nama menjadi Achmad Firdaus.

Tahun 1979 ayah meninggal dunia. Saat itu beliau baru berusia 39 tahun. Ayah meninggal dunia karena bebrbagai penyakit yang diidapnya. Tidak dapat dipungkiri salah satu penyebab timbulnya berbagai penyakit tersebut adalah karena beban mental yang ditanggungnya. Dalam masa kurang dari 2 tahun kami ditinggalkan berturut-turut oleh keempat adik-adik kami. Satu persatu adik-adik kami yang masih balita dipanggil oleh Allah SWT. Khairunnisa, Istiqomah, Nurbaeti dan Nunung adalah keempat adik kami yang meninggal dalam usia balita. Genap 2 tahun dari kematian seluruh adik kami, ayah meninggal dunia. Penyebab kematian ayah, paling tidak disebabkan juga oleh beruntunya kematian yang menimpa adik-adik kami. Cobaan beruntun tersebut mengakibatkan ayah terserang komplikasi berbagai penyakit. RSU Indramayu, RS Gunung Jati Cirebon dan RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, pernah menjadi tempat opname ayah.

Kelak setelah ayah meninggal dunia seluruh usaha ayah dikuasai oleh saudara-saudaranya yang menjadi kepercayaannya tersebut. Orang-orang yang tidak amanah. Orang-orang yang justru meninggalkan kami pada saat ayah sudah tidak ada. Saat ayah meninggal, kakak tertua saya baru duduk di kelas 3 SMEA. Kakak kedua duduk di kelas 1 SMA, di bawahnya lagi kelas 2 SMP, kelas 5 SD, saya kelas 4 SD, kedua adik saya masing-masing kelas 2 SD dan kelas 1 SD.

Ketika ayah meninggal dunia kami ber tujuh saudara dan ibu hanya tinggal di sebuah kamar. Saya menyebutnya kamar karena rumah warisan ayah hanyalah tanah seluas 3 x 3 meter atau 9 meter persegi. Dan di atas tanah warisan itulah ibu berusaha membuatkan kami sebuah ”rumah”. Bisa dibayangkan kamar seluas 9 meter persegi harus dihuni oleh 8 orang sekaligus. Jangankan untuk belajar untuk tidurpun kami harus bergantian. Untuk mandi kami harus menebeng pada tetangga yang bernama Bapak Kuat. Keluarga Pak Kuat adalah pendatang dari daerah Majalengka. Mereka sudah cukup lama menetap di Indramayu.

Kebetulan sumur keluarga Bapak Kuat terletak di belakang rumah. Sumur tersebut sebenarnya adalah tempat pencucian daging hewan sembelihan. Maklum keluarga Bapak Kuat adalah penjual hewan sembelihan berupa sapi dan kerbau. Jadi untuk urusan mandi pagi, kami harus melakukannya menjelang subuh dan untuk mandi sore kami harus melakukannya selepas isya. Bisa dibayangkan terkadang sehabis mandi badan kami bukannya bersih malah bau daging hewan sembelihan.

Untuk urusan buang hajat, kami memiliki seni manajemen tersendiri. Kami harus melakukannya di pesawahan yang terletak 1 km dari rumah. Kami harus mengatur waktu perjalanan antara rumah dan pesawahan yang bila ditempuh dengan jalan kaki memakan waktu 15 menit. Kalo kami lagi punya sedikit uang maka untuk urusan yang satu ini kami melakukannya di WC umum di pasar.
Rumah kami memang di tengah kota, di belakang Pasar Kota Indramayu. Saya teringat ketika menjelang usia peralihan, saya punya geng yang bernama Geng KomPas yang artinya Komplek Pasar. Meskipun berada di tengah kota. Rumah kami tidak memiliki saluran listrik, bagaimana berfikir menggunakan listrik, wong untuk makan saja harus bergiliran.

Firdaus Kampungku
Firdaus adalah surga tempat Rasulallah SAW kembali. Tempat yang memang disediakan buat Rasul.

Dari Anas r.a. katanya: "Ketika Nabi s.a.w. sudah berat sakitnya, maka beliaupun diliputi oleh kedukaan -karena menghadapi sakaratul maut-, kemudian Fathimah radhiallahu 'anha berkata: ''Aduhai kesukaran yang dihadapi ayahanda." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Ayahmu tidak akan memperoleh kesukaran lagi sesudah hari ini." Selanjutnya setelah beliau s.a.w. wafat, Fathimah berkata: "Aduhai ayahanda, beliau telah memenuhi panggilan Tuhannya. Aduhai ayahanda, syurga Firdaus adalah tempat kediamannya. Aduhai ayahanda, kepada Jibril kita sampaikan berita wafatnya." Kemudian setelah beliau dikebumikan, Fathimah radhiallahuanha berkata pula: "Hai Anas, mengapa hatimu semua merasa tenang dengan menyebarkan tanah di atas makam Rasulullah s.a.w itu?" Maksudnya: Melihat betapa besar kecintaan para sahabat kepada beliau s.a.w. itu tentunya akan merasa tidak sampai hati mereka untuk menutupi makam Rasulullah s.a.w. dengan tanah. Mendengar ucapan Fathimah radhiallahu 'anha ini, Anas r.a. diam belaka dan tentunya dalam hati ia berkata: "Hati memang tidak sampai berbuat demikian, tetapi sudah demikian itulah yang diperintahkan oleh beliau s.a.w. sendiri." (Riwayat Bukhari)

Tidak hanya rasulallah SAW. Firdaus pun merupakan taman surga yang setinggi-tingginya surga, surga tempat para syuhada perang badar.

Dari Anas r.a. bahwasanya Ummur Rabi' binti al-Bara', yaitu ibunya Haritsah bin Suraqah, ia mendatangi Nabi s.a.w., lalu berkata: "Ya Rasulullah, tidakkah Tuan suka memberitahukan kepada saya tentang Haritsah -yakni anaknya yang terbunuh pada hari peperangan Badar-. Jikalau ia ada di dalam syurga, maka saya akan bersabar, tetapi jikalau ia ada di tempat yang selain itu, maka saya akan bersangat-sangat untuk menangisinya." Nabi s.a.w. lalu bersabda: "Hai ibu Haritsah, sesungguhnya saja ada beberapa taman di dalam syurga itu dan sesungguhnya anakmu itu telah memperoleh syurga al-Firdaus yang tertinggi." (Riwayat Bukhari)

Firdaus adalah kampung halaman orang yang beriman dan orang-orang yang beramal shaleh. Kampung halaman sekembalinya mereka dari perantauan di dunia. Manakala mereka kembali ke kampung halamannya maka merekapun akan merasakan kenikmatan yang luar biasa, merekapun akan menetap kekal di kampung halaman tercintanya tersebut.

107. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,

108. mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya. QS 18 AlKAhfi: 107,108

Lantas apakah kita semua akan dapat kembali pulang kampung ke surga Firdaus?, Ya kita pasti bisa kembali ke kampung halaman kita. Dengan syarat, pada saat kita pulang kampong, kita tidak tersesat. Agar tidak tersesat maka sebelum kita pulang kampung, kita harus mempersiapkan diri kita dan keluarga kita. Persiapkan jasmani, ruhani, materi, kendaraan, perbekalan, kompas, peta perjalanan, pilihan jalan utama ataupun jalan alternatip dan segalanya. Pilihlah kendaraan yang nyaman untuk kembali ke kampung halaman. Jangan memilih kendaraan motor untuk pulang kampung. Karena motor disamping hanya muat untuk maksimal 2 orang, juga kurang nyaman dipakai untuk perjalanan menuju kampung halaman. Janganlah egois mengendarai kendaraan mobil untuk pulang kampung. Pilihlah mobil yang kapasitasnya besar sehingga dapat memuat banyak orang. Bila memiliki sumber daya yang berlebih maka berlomba-lombalah menyediakan fasilitas pulang kampung bareng agar dapat mengangkut banyak orang. Bila punya kemampuan berlebih, tidak ada salahnya pula pulang kampung dengan pesawat jet berkecepatan tinggi karena disamping nyaman juga dapat cepat sampe ke tujuan.
Sumber daya apa saja yang harus kita sediakan agar dapat pulang ke kampong halaman kita Firdaus? QS 23, Al Mu’Minuun: 1 s.d 11 menjelaskan:

1.Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2.(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya
3.dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna
4.dan orang-orang yang menunaikan zakat,
5.dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6.kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
7.Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
8.Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,
9.dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya
10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
11. yakni) yang akan mewarisi surge Firdaus. Mereka kekal di dalamnya


17. Allah 'Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi): "Tidak semua orang yang shalat itu bershalat. Aku hanya menerima shalatnya orang yang merendahkan diri kepada keagunganKu, menahan syahwatnya dari perbuatan haram laranganKu dan tidak terus-menerus (ngotot) bermaksiat terhadapKu, memberi makan kepada yang lapar dan memberi pakaian orang yang telanjang, mengasihi orang yang terkena musibah dan menampung orang asing. Semua itu dilakukan karena Aku." "Demi keagungan dan kebesaranKu, sesungguhnya bagiKu cahaya wajahnya lebih bersinar dari matahari dan Aku menjadikan kejahilannya kesabaran (kebijaksanaan) dan menjadikan kegelapan terang, dia berdoa kepada-Ku dan Aku mengabulkannya, dia mohon dan Aku memberikannya dan dia mengikat janji dengan-Ku dan Aku tepati (perkokoh) janjinya. Aku lindungi dia dengan pendekatan kepadanya dan Aku menyuruh para Malaikat menjaganya. BagiKu dia sebagai surge Firdaus yang belum tersentuh buahnya dan tidak berobah keadaannya." (HR. Ad-Dailami)

No comments:

Popular Posts