Friday, February 8, 2008

Belajar Kehidupan dari Wanita Bermental Baja, Ibu.................kelak kisah kehidupanmu akan menjadi kisah manis bagi seluruh wanita di dunia




Siang itu di Bulan Mei Tahun 1986, suasana SMA Negeri 1 Indramayu tampak lebih lengang. Sekolah yang saat ini telah berganti nama menjadi SMA Negeri 1 Sindang tersebut, terlihat tidak seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada kegiatan belajar mengajar yang biasa dilakukan oleh sekolah. Beberapa siswa terlihat sedang bermain basket di lapangan sekolah sementara yang lainnya duduk-duduk santai di halaman sekolah.

Semuanya maklum, saat itu siswa kelas 3 baru saja menyelesaikan ujian. Sementara kelas 2 dan kelas 1 masih libur.
Ujian akhir bagi seorang pelajar kelas 3 SMA adalah penentuan bagi mereka, apakah mereka dapat lulus dari SMA ataukah tidak?.
Apakah mereka dapat meneruskan kuliah ataukah harus tinggal dan mengulang di kelas yang sama.
Saat itu saya bersama beberapa teman dari kelas 3B2 sengaja datang ke sekolah hanya sekedar untuk nongkrong-nongkrong saja di depan sekolah. 3B2 adalah sebutan kelas kami untuk menunjukan bahwa kami kelas 3 dari jurusan IPA kelas pararlel ke-2. SMA Negeri 1 Indramayu saat itu memiliki 4 kelas Jurusan IPA yang paralel yaitu 3B1, 3B2, 3B3 dan 3B4. Untuk yang mengambil jurusan bahasa, kita menyebutnya 3A1, sementara yang mengambil jurusan IPS kita menyebutnya 3C1, 3C2 dan 3C3.
Ngobrol ngalor ngidul dari omongan tentang soal-soal ujian hingga berbagai impian untuk meneruskan kuliah. Mahsun, salah seorang sahabat karib saya dengan antusias mengatakan bahwa dia ingin menjadi guru yang baik, oleh karenanya dia mantep untuk masuk ke IKIP (sebelum berubah nama menjadi UNJ) dan IKIP Jakartalah yang akan menjadi tujuan kuliahnya. Seorang teman lainnya dengan berapi-api begitu yakin bisa masuk APDN (sebelum berubah nama menjadi STPDN). Sementara yang lainnya bercerita banyak tentang UGM, ITB, UnPad, Universitas Diponegoro dsbnya. Saya menjadi pendengar yang baik saja waktu itu. Maklum meskipun saya juara pertama dikelas 3B2 dan juara 3 untuk seluruh jurusan IPA, namun saya masih belum yakin apakah saya bisa melanjutkan kuliah.
Yah,.....bukannya saya pesimis dengan masa depan saya tetapi kondisi keuangan keluarga yang memaksa saya untuk mengerem berbagai mimpi-mimpi saya.
Universitas Indonesia memang menjadi impian utama saya. Kuliah di Universitas Indonesia adalah cita-cita yang sejak lama sudah saya pendam.
“Dos, dicariin Bu Yanie tuh!”, kata salah seorang teman mengagetkan kami semua. Idos adalah nama kecil saya. Teman-teman selalu memanggil saya dengan sebutan tersebut. Sementara Bu Yanie adalah Guru Matematika sekaligus wali kelas kami. Nama panjangnya sih Tanyanie, tapi beliau lebih suka dipanggil Bu Yanie untuk mempercepat panggilan katanya.
“Wah ada apa lagi ya, Bu Yanie nyariin saya?”
”Tahuk tuh!, katanya ada kabar bagus buat kamu”.
”Kabar apa lagi ya?”.
”Udah lah. Enggak usah nanya dulu, mendingan kamu ke sana aja!”, sahut temanku.
Belum bergerak saya melangkah menuju kantor guru, dari arah berlainan, beberapa teman saya berteriak, ”Dos, selamat ya, kamu diterima masuk UI!. ”PMDK, enggak pake test !!”.
Kaget, enggak percaya dengan kabar tersebut, saya berlari menuju kantor guru. Disana sudah menunggu Bu Yanie bersama beberapa guru lainnya.
”Firdaus, selamat ya – kamu diterima PMDK di Jurusan Fisika UI”.
”Akh, yang bener, Bu ?” , tanyaku dengan perasaan yang enggak percaya.
”Nih surat dari dikti, kamu baca sendiri aja”, kata Bu Yanie.
”Alhamdulillah..........”, gumamku.
Dengan sedikit gemetar surat itupun saya terima.
Lalu saya baca isi surat tersebut.
Di dalam surat tersebut, tertulis jelas nama saya, nama sekolah saya dan nama program studi Fisika Universitas Indoneisa dengan nomor program studi 220447.

”Makasih bu”, sahut saya.
”Oh ya, Fisikanya yang S1 atau yang D3 ya?”, tanya seorang guru yang lain.
Lembar pemberitahuan penerimaan PMDK dari depdikbud dirjen dikti-pun saya buka lagi. Tangan saya gemetar, saya masih belum percaya bahwa saya masuk UI tanpa melalui test lagi.
”Saya masuk yang S1, Bu!”, kataku.
Sontak beberapa guru lain yang berada di ruang gurupun memberikan selamat kepada saya. Teman-teman saya yang sedari tadi berada di luar ruangan guru pun ikutan memberikan selamat kepada saya.
Mengapa jurusan fisika menjadi pilihan utama saya?
Saat saya duduk di kelas 2 SMA, saya diajar oleh seorang guru bernama Pak Udan. Beliau adalah guru fisika yang baru. Sebelumnya beliau mengajar di salah satu SMA di Bandung. Pak Udan mengajar fisika dengan konsep sederhana, bahwa fisika itu mudah, fisika adalah bukan pelajaran yang menakutkan. Sejak Pak Udan mengajar fisika di sekolah, praktekum fisika menjadi sering dilakukan. Hal ini membuat saya menyenangi pelajaran fiska. Berkat sistem pengajarannya yang simpel membuat saya begitu tertarik dengan perhitungan-perhitungan yang ada dalam pelajaran fisika. Setelah itu sayapun mantap untuk meneruskan kuliah di jurusan fisika.
Saya memilih jurusan S1 Fisika UI sebagai pilihan pertama PMDK dan D3 Fisika UI sebagai pihan kedua. Saat itu memang beberapa universitas negeri yang memiliki fakultas MIPA membuka 2 juruan yaitu S1 dan D3. Jurusan S1 diperuntukan bagi yang mau menyelesaikan program sarjana. Sementara program D3 diperuntukan untuk calon guru. Kalo tidak salah program ini dibentuk oleh pemerintah sebagai jawaban atas kurangnya mutu guru yang mengajar mata pelajaran MIPA di sekolah.
Hari itu adalah hari dimana saya merasa sebagai orang yang ’diagungkan’ oleh Allah SWT. Paling tidak, diterimanya saya menjadi mahasiswa UI adalah jawaban saya terhadap perjuangan ibu. Saat itu saya telah membuktikan bahwa penderitaan ibu saya tidaklah sia-sia.
Ibu adalah orang pertama yang saya kabari tentang berita penerimaan PMDK saya. Betapa senangnya hati ibu mendapat berita tersebut, tidak ada sedikitpun keraguan di wajahnya menerima kabar tersebut.


Cobaan Hidup Membuat Saya Lebih Survived.

Segala macam rasa berkecamuk pada diri saya. Bingung, seneng, optimis, ragu-ragu dsbnya. Bagaimana tidak, di dalam surat pemberitahuan dari dikti tersebut diinformasikan bahwa saya harus daftar ulang pada tanggal 17 Juni 1986. Pada tanggal tersebut SPP dan seluruh keuangan harus sudah dibayarkan. Bila terlambat maka calon mahasiswa dinyatakan mengundurkan diri dan dianggap gugur.
Mengapa ragu?.
Karena saya tahu diri, saya sudah menjadi yatim semenjak saya duduk di bangku kelas 5 SD. Saya adalah anak ke – 5 dari 11 bersaudara. Ke-empat adik-adik saya meninggal dunia pada usia balita. Mereka menderita sakit dan beberapa diantaranya meninggal tanpa sakit terlebih dahulu. Tepat 2 tahun setelah kematian adik pertama saya, ayah saya dipanggil oleh Allah SWT akibat komplikasi berbagai penyakit, hal itu terjadi pada tahun 1979.
Artinya dalam waktu 2 tahun berturut-turut kami kehilangan 5 orang yang sangat kami cintai. Bila dihitung rata-ratanya maka dalam masa 5 bulan sekali kami ditinggal satu persatu anggota keluarga kami. Subhannallah, Allah telah memberikan cobaan kepada kami sekeluarga dan Allahpun memberikan kami kesabaran dan ketabahan dalam menerima cobaan tersebut.

Masa Kecil yang Tak Akan Pernah Terlupakan.
Ibu dan kakak saya pernah bercerita kepada saya bahwa saya terlahir dengan nama Toto Sugiharto. Mengapa ayah saya menamakan saya dengan Sugiharto? Saat kelahiran saya, bisa dikatakan sebagai masa puncak ayah dalam mengelola usaha. Ayah disamping pegawai PEMDA Indramayu juga memiliki usaha CV Indra Karya. Perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor bangunan. Banyak gedung dan bangunan yang telah ditangani oleh perusahaan ini. Disamping itu, ayah juga memiliki bisnis angkutan kota dan peternakan unggas berupa ayam dan bebek.

Ayah juga memiliki usaha transportasi berupa angkutan kota dan becak. Trayek angkutan kota yang dilayaninya adalah Indramayu – Patrol. Sementara kegiatan usaha becak dilakukan di Jakarta dan dikelola oleh saudaranya.
Pada saat itu memiliki becak merupakan bisnis yang pantas untuk dibanggakan. Di belakang rumah, ayah juga memiliki banyak ayam maupun bebek yang bisa dijadikan penghasilan tambahan. Bukan itu saja ayah juga memiliki usaha pasir kali. Pangkalan galian pasir dimilikinya di daerah Bangkir dan dikelola oleh saudaranya juga
Konon pada saat saya berusia balita, menurut penuturan ibunda tercinta, kami sekeluarga kedatangan seorang tamu berperawakan tinggi besar, dengan wajah mirip orang Arab. Beliau mengaku sebagai kawan dekat kakek saya, KH Sirad. Menurutnya beliau teman baik kakek ketika berada di Arab. Beliau datang untuk bersilaturahmi dengan kakek, namun sayang saat itu kakek saya sudah wafat. Ketika melihat saya dan menanyakan nama saya, beliau menyarankan kepada kami sekeluarga untuk mengganti nama saya dengan Achmad Fidaus. Sejak itu pula saya berganti nama menjadi Achmad Firdaus.

Kelak setelah ayah meninggal dunia seluruh usaha ayah tersebut dikuasai oleh saudara-saudaranya yang menjadi kepercayaannya tersebut. Orang-orang yang tidak amanah. Orang-orang yang justru meninggalkan kami pada saat ayah sudah tidak ada.........................................
Saat ayah meninggal, saudara tertua saya baru duduk di kelas 3 SMEA. Kakak kedua saya duduk di kelas 1 SMA, di bawahnya lagi kelas 2 SMP, kelas 5 SD, saya kelas 4 SD, kedua adik saya masing-masing kelas 2 SD dan kelas 1 SD.
Seluruh usaha ayah habis tak bersisa untuk mengobati penyakit yang diderita oleh ayah. Bahkan ketika ayah meninggal dunia kami ber tujuh saudara dan ibu hanya tinggal di sebuah kamar. Saya menyebutnya kamar karena rumah warisan ayah hanyalah tanah seluas 3 x 3 meter atau 9 meter persegi. Dan di atas tanah warisan itulah ibu berusaha membuatkan kami sebuah ”rumah”.
Bisa dibayangkan kamar seluas 9 meter persegi harus dihuni oleh 8 orang sekaligus. Jangankan untuk belajar untuk tidurpun kami harus bergantian.
Untuk mandi kami harus menebeng pada tetangga yang bernama Bapak Kuat. Keluarga Pak Kuat adalah pendatang dari daerah Majalengka. Mereka sudah cukup lama menetap di Indramayu.
Kebetulan sumur keluarga Bapak Kuat terletak di belakang rumah. Sumur tersebut sebenarnya adalah tempat pencucian daging hewan sembelihan. Maklum keluarga Bapak Kuat adalah penjual hewan sembelihan berupa sapi dan kerbau. Jadi untuk urusan mandi pagi, kami harus melakukannya menjelang subuh dan untuk mandi sore kami harus melakukannya selepas isya. Bisa dibayangkan terkadang sehabis mandi badan kami bukannya bersih malah bau daging hewan sembelihan.
Untuk urusan buang hajat, kami memiliki seni manajemen tersendiri. Kami harus melakukannya di pesawahan yang terletak 1 km dari rumah. Kami harus mengatur waktu perjalanan antara rumah dan pesawahan yang bila ditempuh dengan jalan kaki memakan waktu 15 menit. Kalo kami lagi punya sedikit uang maka untuk urusan yang satu ini kami melakukannya di WC umum di pasar.
Rumah kami memang di tengah kota, di belakang Pasar Kota Indramayu.
Saya teringat ketika menjelang usia peralihan, saya punya geng yang bernama Geng KomPas yang artinya Komplek Pasar.
Meskipun berada di tengah kota. Rumah kami tidak memiliki saluran listrik, bagaimana berfikir menggunakan listrik, wong untuk makan saja harus bergiliran.

Perjuangan Ibu Tiada Bandingannya di Dunia.
Ibu saya bernama Rokayah, dilahirkan di Desa Kandanghaur. Desa yang sampai saat ini terkenal dengan istilah Pasar Jodoh. Pasar dimana tempat bertemunya anak muda untuk mencari jodoh. Menurut cerita yang dituturkan oleh ibu saya, konon bila seorang gadis tertarik pada seorang pemuda atau sebaliknya. Maka sang gadis harus rela tinggal di rumah orang tua pemuda tersebut. Selama beberapa hari, dia harus mengalami ’masa magang’ menjadi seorang istri yang baik. Membantu calon mertua melakukan urusan rumah tangga. Tentu saja minus ’tugas khusus’ istri melayani suami. Bila aturan yang satu ini dilanggar maka sanksi soaisl dari masyarakat sekitar akan dijatuhkan pada mereka. Manakala calon mertua merasa cocok maka sang pemuda berkewajiaban menikahi si gadis. Tapi bila calon mertua tidak merasa cocok maka urusan menjadi selesai dengan sendirinya.
Ibu dilahirkan dengan bekal mental baja. Mental seorang surviver. Saya tidak bisa membayangkan mental seorang wanita yang ditinggal mati oleh lima orang yang dicintainya hanya dalam masa 2 tahun. Setiap lima bulan sekali satu persatu orang –orang yang dicintainya dipanggil oleh Allah SWT. Khairunnisa, Istiqomah, Nurbaeti dan Nunung adalah keempat adik saya yang meninggal dalam usia balita. Genap 2 tahun dari kematian adik saya yang pertama, ayah meninggal dunia. Penyebab kematian ayah, paling tidak disebabkan juga oleh beruntunya kematian yang menimpa adik-adik saya. Cobaan beruntun tersebut mengakibatkan ayah terserang komplikasi berbagai penyakit. RSU Indramayu, RS Gunung Jati Cirebon dan RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, pernah menjadi tempat opname ayah. Seluruh usaha ayah habis untuk pengobatan. Bahkan uang pensiun tiap bulan pun harus minus untuk menutup hutang di kantor ayah.
Sejak kematian ayah, ibu berperan berganda-ganda. Ayah memang memiliki banyak saudara. 2 kakak dan 4 adik. Namun kematian ayah tidak membuat mereka berbelas kasihan pada kami. Dari segi ilmu mereka paham bahwa menyantuni anak yatim adalah hukumnya wajib. Mereka pun paham bahwa sesungguhnya adalah ancaman dari Allah SWT terhadap orang yang menelantarkan anak yatim. Tapi ilmu tinggallah ilmu, kami yang yatim harus berjuang sendirian.
Ibu memulai kehidupan baru sebagai pembantu rumah tangga. Kebetulan berdekatan dengan rumah kami, ada sebuah rumah kontrakan karyawan PT. Nisconi. Nisconi adalah perusahaan rekanan pertamina yang berasal dari Negara Jepang. Ibu menjadi pembantu rumah tangga di rumah tersebut. Mencuci baju, memasak makanan, membersihkan isi rumah dsbnya, dikerjakan oleh ibu dengan ikhlas.
Pagi hari ba’da subuh ibu sudah harus menuju rumah kontrakan tersebut. Oleh karenya kami ke sekolah jarang sarapan pagi. Siang harinya, ketika kami pulang dari sekolah ibu membawakan kami makan. Kami makan bergiliran karena jatah makan yang ibu bawa terbatas, kami memakluminya. Untuk makan malam, kami harus menunggu hingga ibu pulang, terkadang hingga larut malam kami harus menunggu ibu pulang.
Suatu saat kontrakan rumah tempat para karyawan Nisconi pun pindah. Ibu terpaksa berhenti bekerja. Ibu mencoba peruntukan dengan berdagang kue yang dia buat sendiri. Sebelum subuh dia sudah sibuk dengan masakannya. Kami semua ikut membantu meskipun dia tidak memintanya. Tetangga kami yang pedagang
Dengan penghasilan yang tidak menentu membuat ibu harus banyak berhutang kepada warung, toko atau bahkan kepada rentenir sekalipun. Semuanya dia lakukan untuk mempertahankan masa depan kami semua. Akhirnya ibu tidak kuat menahan segala cercaan saudara-saudara ayah maupun orang-orang yang tidak bisa hidup berdampingan dengan 7 orang anak yatim. Ibu memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Ibu memutuskan untuk menjadi penjaga toko di salah sebuah toko milik orang China. Toko tersebut berada di Pasar Senin. Setiap bulan ibu pulang ke Indramayu. Ibu membawa sedikit uang untuk kami. Bisa dibayangkan pertemuan kami setiap bulan selalu diawali dan diakhiri dengan tangisan kami berdelapan. Ibu mengajarkan kami tentang berbagai bentuk kesabaran dan ketabahan, bukan dengan berbagai teori atau konsep tapi belajar dari kehidupan nyata.
Upah hasil menjadi penjaga toko di Pasar Senin tidaklah cukup untuk membiayai kami semua, oleh karena itu ibu memutuskan untuk mecari tambahan penghasilan lainnya. Kebetulan ada kerabat ibu yang memiliki usaha pembuatan garam di daerah Eretan (Indramayu). Ibu ditawari pekerjaan untuk melakukan pengiriman garam dari daerah Eretan ke Pasar Kramat Jati. Garam dikirim dari daerah Eretan jam 12 malam dan tiba di Pasar Kramat Jati sekitar subuh. Ibu bertugas mengawal pengiriman garam tersebut ke tengkulak yang ada di Pasar Kramat Jati. Ibu melakukan tugas tersebut seminggu sekali, sementara tugas sebagai penjaga toko tetap dia lakukan. Subhanallah, Allah telah memberikan kekuatan yang luar biasa kepada ibu, dengan kondisi yang begitu berat, Allah memberikan kekuatan baik jasmani maupun rohani.
Setahun setelah meninggalnya ayah, kakak pertama saya lulus dari SMEA. Kakak memutuskan untuk tidak kuliah, kakak akhirnya mengikuti ibu ke Jakarta. Dia tinggal di tempat saudara di daerah Kebayoran Lama Jakarta Selatan dengan harapan akan mendapat pekerjaan untuk memperingan beban ibu. Namun setahun tinggal di tempat saudara, pekerjaan yang diharap tidak kunjung datang, akhirnya ibu menyarankan kakak untuk kembali ke Indramayu. Kakak mendapat pekerjaan sebagai tenaga tata usaha di salah satu sekolah SLTP di Indramayu. Sambil bekerja kakak mengikuti kursus menjahit. Saat ini kakak pertama telah membuka usaha menjahit sendiri. Kakak pertama akhirnya mendapat suami yang bekerja di Pemda Indramayu.

Kakak keduapun lulus dari SMA. Ibu kembali membawa kakak kedua ke Jakarta, dengan harapan mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Kakak kedua ikut dengan kerabat ibu yang tinggal di daerah Pondok Kopi Jakarta Timur. Kebetulan beliau bekerja di BNI 1946 di daerah Kota Jakarta Barat. Kakak keduapun mengikuti seleksi di BNI 1946. Sekitar setahun proses seleksi dilakukan. Dalam masa seleksi ini, kakak secara rutin pergi pulang Indramayu – Jakarta. Ada banyak cerita menarik yang disampaikan oleh kakak kedua maupun ibu pada saat proses seleksi ini. Suatu saat kakak harus menghadiri test kesehatan. Saat itu team dokter mendapati salah satu gigi kakak bolong dan harus dicabut, bila tidak dilakukan maka kakak akan dinyatakan tidak lulus. Namun permasalahannya adalah untuk mencabut gigi tersebut membutuhkan biaya sebesar Rp 25.000,- saat itu ibu tidak memiliki uang sebesar itu. Akhirnya ibu memutuskan untuk meminjam uang kepada kerabatnya di daerah Kalibaru Tanjung Priuk. Sayang ibu tidak memiliki alamat lengkapnya. Ibu hanya tahu nama kerabatnya tersebut. Akhirnya ibu meminta kakak untuk mencari sendiri alamat kerabat ibu.
Oleh karena ibu tidak bisa meninggalkan pekerjaan sebagi penjaga toko.

Berbekal nama yang ada, kakak kedua akhirnya mencari nama kerabat ibu. Bisa dibayangkan mencari sebuah nama di daerah Jakarta tanpa alamat yang jelas akan menghasilkan apa?. Hingga waktu magrib tiba, kakak berjalan-jalan sendiri menanyakan nama kerabat ibu kepada orang-orang yang ditemuinya.
Alhamdulillah menjelang Isya akhirnya kakak berjumpa juga dengan orang yang dicari. Kakakpun menceritakan maksud kedatangannya kepada kerabat ibu. Tangis pilu, kasihan dan iba terhadap nasib kakak, akhirnya kerabat ibu meminta kakak untuk menginap di tempatnya. Esok harinya kakak menemui ibu untuk bersama-sama ke dokter gigi untuk mencabut gigi. Lokasi dokter gigi yang terdekat adalah di Lapangan Banteng. Rupanya waktu yang dibutuhan untuk mencabut gigi terlalu lama. Menurut penuturan ibu, saat itu waktu sudah menunjukan sekitar 10 kurang lima belas menit padahal kakak harus sudah hadir di BNI 1946 Kota jam 10.00. Bingung bukan kepalang ibu dan kakak seperti orang linglung, tidak tahu apa yang harus dilakukan, saat itu wajah kakak sudah merah dan sembab menangisi nasibnya, terbayang sudah kegagalan mengikuti test kesehatan. Sekonyong-konyong ibu melihat sebuah mobil patroli polisi yang sedang menjaga kawasan Lapangan Banteng, sontak keberanian muncul dalam diri ibu. Ibu memberhentikan mobil polisi tersebut. Ibu menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi, tidak lupa pula kakak memperlihatkan kartu test BNI 1946.

Alhamdulillah Allahpun memberikan kemudahan. Pak polisi selanjutnya mempersilahkan ibu dan kakak untuk naik mobil kijang patroli. Saat itu kakak masih sempat melihat sekeliling, ternyata pada saat ibu dan kakak berada di atas mobil patroli tersebut, banyak pandangan mata di sepanjang jalan Lapangan Banteng hingga Kota tertuju kepada kakak dan ibu.

Tiba di depan BNI 1946 Kota pak polisi berkata, ”Bu, maaf, tadi ibu lihat orang-orang di sepanjang jalan pada ngeliatin ibu enggak?”.
”Ya, pak!, apa yang salah ya?”, tanya ibu.
”Maaf ya bu, mobil ini biasanya digunakan untuk ngangkut penjahat atau sejenisnya, ibu jangan kesinggung ya”, jawab pak polisi.
”Akh, biarin aja pak yang penting saya sudah nyampe ke sini”, jawab ibu.

Karena waktu pada saat itu sudah menunjukan jam setengah sebelas, ibu meminta kepada pak polisi untuk mengantarkan kakak dan ibu kepada panitia test BNI 1946. Ibu berharap pak polisi dapat menceritakan kepada panitia atas apa yang sudah terjadi pada kakak dan ibu. Akhirnya pak polisi yang baik hati itupun bersedia menolong. Dia menemui panitia test dan menceritakan ihwal terlambatnya kakak mengikuti test seleksi di BNI 1946. Alhamdulillah sesi test kesehatan kakak saat itupun dinyatakan lulus, meskipun terlambat datang. Ya Allah, meskipun kakak dan ibu belum sempat tahu nama pak polisi yang baik itu, semoga Engkau membalas kebaikan hati pak polisi tersebut.

Hampir satu tahun proses seleksi penerimaan pegawai di Bni 1946 berlangsung dan akhirnya kakakpun mendapatkan keputusan bahwa dia diterima menjadi karyawan BNI. Kakak tinggal di Jln. Pemuda II di samping Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Timur. Rumah teserbut adalah milik Yu Dasmi kerabat ibu yang berbaik hati mengantarkan kakak menajdi karyawan BNI 1946. Rumah teserbut memiliki 5 kamar, 4 kamar lainnya dijadikan temapt kost. Tiap kamar diisi antara dua hingga tiga orang, kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang berasal dari Indramayu. Mulai saat itu kakak bahu membahu bersama ibu membiaya kami berenam di Indramayu. Saat ini kakak sudah menyelesaikan studi S1 nya di Universitas Indramayu.

Pada saat kakak kedua mengikuti seleksi penerimaan karyawan Bni 1946 di Jakarta, kendali kami sekeluarga di Indramayu dipimpin oleh kakak kami yang pertama. Upah dari honorer TU di SLTP tidaklah seberapa namun dengan tekad bersama bahwa meskipun sedikit tetapi harus dibagi, kami selalu menikmati segala kekuranagn kami tersebut. Saya masih ingat betul, saat-saat magrib adalah saat dimana kami harus menunggu kedatangan mbok tua penjual rumbah. Rumbah adalah nama sejenis pecel atau gado-gado. Kami menunggu kedatangan mbok tua karena kami tahu, saat magrib adalah saat dimana mbok tua pulang dari berdagang rumbah keliling. Biasanya sambel atau bumbu rumbah akan berlebih. Kami membeli sambel tersebut, untuk selanjutnya kami tambahkan air lagi sehingga menjadi lebih banyak, lalu kami bagi air atau kuah rumbah tersebut untuk dijadikan teman makan malam kami. Terkadang kami mendapati mbok tua tidak memiliki sisa sama sekali kuah rumbah tersebut oleh karena rumbah dagangannya sudah habis terjual, maka saat itulah kami harus bersabar untuk tidak makan malam lagi. Masya Allah, Ya Allah Engkau telah memberikan kepada kami kekuatan yang tiada taranya sehingga meskipun kami terkadang tidak makan malam tetapi kami masih tetap dapat diberi kesabaran dan kekuatan.

Saat itu adalah saat dimana kakak kami yang ketiga dalam proses kelulusan dari SPGnya (Sekolah Pendidikan Guru). Untuk meringankan beban kehidupan kami, kakak ketiga kami bersedia tinggal di rumah tetangga kami. Kebetulan ada tetangga kami yang berumur lanjut dan seluruh anaknya tinggal di luar kota Indramayu. Kakak bertugas menemani ibu tua tetangga kami. untuk itu kakak diberi imbalan sekedarnya. SPP kakak di SPGpun dibantu olehnya. Saya masih ingat betul setaip sore hari kakak selalu menyempatkan diri untuk datang ke rumah kami dengan memebawa sedikit kue atau makanan, kami selalu senang menerima kue yang dibawa kakak.
Kakak ketigapun akhirnya lulus dari SPG dan selanjutnya menjadi guru SD. Saat ini kakak masih mengajar di salah sebuah SDN di Indramayu. Kakak memiliki suami seorang wiraswasta.

Kabar baik datang juga, kakak ke empatku mendapat beasiswa dari sekolahnya atas prestasinya. Kakak dibebaskan dari pembayaran SPP. Nasib krang beruntung menimpa saya. Ibu tidak pernah bisa membayar SPP saya yang mengakibatkan saya tidak pernah mengambil raprot dikarenakan belum membayar SPP. Saya masih ingat betul SPP saya dibayarkan sekaligus dari kelas satu hingga kelas 3 SMP,itupun menjelang pembagian ijazah SMP saya.
Salah seorang teman sekelasku pernh bertanya.
”Firdaus, kamu naik juga ya?”, tanya dia kepada saya.
”Tauk, tuh sa bodoh, orang raport aja belum lihat”, saya bilang.
”Koq kamu yakin naik kelas, meskipun belum lihat raport?”, tanyanya lagi.
Saat itu saya sebenarnya pengen bilang sama dia.
”Ya kalo kamu aja naik kelas, masak iya saya enggak naik kelas sih!!!!!!!!”.
Tapi pertanyaan tsb hingga saat ini Alhamdulillah belum terucapkan langsung kepada dia. Ya maklum aja lah, wong teman saya yang nanya tersebut punya ranking 43 dari 44 siswa di kelas sementara saya sendiri selalu masuk 3 besar di SMP N 2 Indramayu. SMP yang sangat favorite di Indramayu hingga saat ini.

Kakak ke empatpun lulus dari SMA. Dia meminta ijin kepada ibu untuk melanjutkan kuliah tapi ibu menyerahkan sepenuhnya kepada kakak kedua karena beban keluarga sebagian disanggah olehnya. Alhamdulillah akhirnya kakak keemapat akhirnya dapat kuliah dan menyelesaikan DII IKIP Jakarta dan saat ini mengajar di SMP Negeri Dukuh Indramayu. Dia akhirnya dapat merampungkan S1nya di Universitas Wiralodra. Kakak memiliki suami guru teman mengajarnya.

Menjelang kelulusan saya dari SMA. Kakak kedua memutuskan untuk minta mutasi dari BNI 1946 Cabang Kramat ke BNI 46 Cabang Indramyu. Rupanya dia kurang cocok dengan kehidupan kota Jakarta. Akhirnya kakakpun meminta ibu untuk berhenti bekerja dan bersama-sama pulang kampung ke Indramayu. Kakak menikah dengan kawan SMAnya (saat ini kakak ipar bekerja di dinas Perijinanan Pemda Indramayu dan telah mermungkan S1nya di Universits Wiralodra). Kakak mengontrak rumah di Indramayu. Ibupun diboyong untuk tinggal bersamanya.

Selanjutnya apa yang saya alami setelah menerima kabar PMDK di Fgisika UI dari Dikti?.
Ibu membekali saya dengan uang Rp 125.000,-. Saya masih ingat betul saya berangkat Hari Jumat pagi dan tiba di UI Salemba siang hari. Saya langsung daftar ulang. Apa dinyana ternyata saya harus membayar uang SPP Rp 100.000,- ditambah uang Dana Kesejahteraan Kampus sebesar Rp 10.000,-. Sementra uang pemberian ibu saya yang sebesar Rp 125.000,- sudah saya gunakan untuk ongkos Bis Indramayu – Jakarta beserta makan siang. Uang yang ditangan tinggal sekitar Rp 100.000,-. Saya bingung baru kali itu saya ke Jakarta sudah langsung menemui masalah besar. Pendaftaran ulang terakhir adalah besok jam 16.00 bagi peserta yang tidak mendaftara ulang akan dinyatakan mengundurkan diri. Jam 4 sore saya keliling Wisma Daksinapati, Alhamdulillah ternyata saya ketemu dengan kerabat ibu dari Indramayu. Sayapun menceritakan permasalahan yang sedang saya hadapi. Kerabat itu bilang sebenarnya kamu masih punya saudara yang menjadi dokter, dia buka prakterk di Rawamangun tapi sayang dia tidak tahu alamat pastinya dimana.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencari sendiri alamat kerabat ibu. Berbekal nama dr. Kumaedhi akhirnya sore itu pula saya berjalan kaki mencari nama dr. Khumaedi. Saya berpikir kalo saja kakak kedua dapat mencari kerabat ibu di Kalibaru masak iya saya yang laki-laki tidak berhasil seperti dia.
Susah memang mencari orang yang tidak jelas alamatnya. Rasa lapar dan dahaga tidak saya rasakan. Menjelang jam 20.30 Alhamdulillah akhirnya saya mendapatkan rumah dr. Khumaedi. Sayapun menceritakan permasalahan yang saya hadapi. Saya diminta menunggu oleh dr. Khumaedi karena pasien masih banyak. Menjelang jam 22.00 akhirnya dr. Khumaedi bisa menemui saya. Saya diminta untuk menginap di rumahnya namun saya menolaknya dengan alasan harus menyiapkan pendaftaran ulang. Saya dibekali uang Rp 100.000,-, uang yang cukup besar untuk masa itu (setara dengan uang spp saya satu semester). Dr Khumaedi yang saya maksud, saat ini telah menjadi orang penting di RSU Kota Tangerang. Kabar terakhir yag saya dengar beliau adalah Direktur RSU Kota Tangerang. Semoga Allah memberi keberkahan kepada keluarganya.

Suka duka kuliah saya lalui. Saya hanya dikirimi uang oleh ibu sebesar Rp 5.000 hingga Rp 10.000,- per minggu. Pengiriman uang dilakukan melalui surat. Uang lima ribu dibungkus kertas karbon lalu dimasukan kdee dalam amplop. Cukup aman untuk mengelabui orang yang iseng. Pernah suatu ketika saya mendapati surat yang ibu kirim ternyata tidak berisi uang sebagaimana biasanya. Rupanya ada orang yang tahu isi surat tsb dan mengambil uang yang ada di dalam amplop, entah oleh petugas pos ataukah orang lain, yang jelas saya ikhlas dengan kehilangan uang tersebut.
Kalo sudah begitu maka waktunya bagi saya untuk makan dengan teratur yaitu sehari makan dan sehari puasa.

Menjelang semester 3, saya memberanikan diri untuk melamar menjadi Co Assisten di lab kampus sayapun diterima dengan gaji Rp 2.500,- (Dua Ribu Lima Ratus Rupiah) per 2 jam mengajar, Saya mendapat jatah 2 kali mengajar dalam seminggunya, Alhamdulillah.
Saya juga rajin mencari beasiswa dari satu lembaga ke lembaga lainnya. Suatu ketika saya mendapati kabar bahwa ada kerabat ayah yang menjadi petinggi di BULOG, beliau Kepala Urusan Keuangan Bulog. Saya pun datang ke kantornya di daerah Gatot Subroto. Saya disuruh menceritakan silsilah saya dan hubungan saya dengan dia, apa daya saya tidak bisa menunjukan silisilah tsb. Sayapun diusir dari kantor Bulog oleh satpam dengan tuduhan mengaku-ngaku saudara pejabat di Bulog. Saya sempat menceritakan hal ini kepada ibu. Ibu hanya dapat menangis mendengar cerita saya. Ibupun sebenarnya tahu bahwa memang orang tersebut adalah kerabat ayah. Pada akhirnya beberapa tahun yang lalu ibu bercerita kepada saya bahwa orang tersebut meninggal dengan cara yang tidak wajar di rumahnya yang seperti istana.

Yayasan Achmad Bakrie, satu yayasan yang didirikan oleh Ibu Achmad Bakrie adalah yayasan yang telah memberikan saya beasiswa dari tahun 1989 hingga tahun 1993. Yayasan ini memberikan beasiswa sebesar Rp 25.000,- per bulan. Biaya kost di Depok saat itu adalah sebesar Rp 75.000,-. Karena kondisi ini maka sayapun kuliah sambil bekerja. Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan kuliah S1 saya di Jurusan Fisika FMIPA UI Depok dan S2 Pasca Sarjanan Management Sciences di FE UI Depok.

Adik saya yang pertama saat ini sudah bekerja di Dinas Perijinan Pemda Indramayu dan dalam proses menyelesaikan kuliah S1nya di Universitas Wiralodra. Sementara Adik kedua saya yang lulusan Prodip Pegadaian STAN dan S1 Unswagati Cirebon.
Selepas kelulusan SMAnya di SMA N 4 Cirebon, adik saya langsung saya bawa ke Depok. Maksudnya untuk saya masukan ke bimbingan belajar untuk menghadapi test masuk perguruan tinggi, Nurul Fikri adalah bimbingan belajar yang saya tuju. Saat tinggal di tempat kost saya, dia terikat dengan peraturan yang saya terapkan. Salah satu peraturan yang saya terapkan padanya adalah bahwa dia diperbolehkan keluar dari kamar saya mulai selepas Isya hingga jam 9.00 malam, setelah itu dia harus belajar lagi hingga jam 11 malam.

Suatu saat, sampai dengan jam 9.15 malam adik saya belum juga masuk kamar untuk belajar. Karena aturan harus diterapkan maka pintu kamar kost pun saya kunci dari dalam. Sekitar jam 12 malam induk semang saya Pak Endang teriak-teriak memanggil saya.
”Achmad, ini Abdulloh masih di luar, buka pintunya!, kasihan dia mau tidur”, Pak Endang teriak-teriak dengan logat Betawinya yang kental. Bisa dibayangkan Orang Betawi teriak-teriak di tengah malam yang sedang sunyi senyap, bagaimana kegaduhannya.
Sayapun membuka pintu.
”Biarin aja, dia tidur di bawah pohon belimbing, dan saya minta Pak Endang jangan kasih dia tempat buat tidur, kalo Pak Endang mau ngasih dia tempat buat tidur, besok hari saya mau pindah kost dari sini”, saya timpali.
Pak Endang hanya terdiam saja mendengar jawaban saya.
Yah, jadilah adik saya Abdulloh malam itu tidur di bawah pohon belimbing di depan kamar kost saya. Saya pikir kalo aturan sudah disepakati bersama maka hukuman atau reward harus tetap ditegakan.
Alhamdulillah berkat ridho Allah juga akhirnya adik saya diterima di Prodid III STAN Pegadaian. Saya dengar saat ini dia sedang diberi amanah untuk membuka cabang pegadaian yang barui di Kandanghaur Indramayu, daerah dimana ibu saya di lahirkan. Dan kalo enggak ada masalah apa-apa maka dialah yang diminta untuk menjadi Kepala Cabang Pegadaian Kandanghaur

Tahun 2003 adalah tahun dimana Allah kembali menunjukan kebesarannya. Saat itu Ibu menemui kakak saya yang kedua.
”Ros, rasanya sudah waktunya ibu pergi ke tanah suci”, pinta ibu kepada kakak.
”Iya bu, saya juga sudah kepikir untuk memberangkatkan ibu kesana, tapi saya belum punya uang untuk keperluan itu”, jawab kakak saya.
”Insya Allah saya sudah punya Lima Belas Juta”, jawab ibu.
”Ibu dapat uang dari mana sebesar itu”, tanya kakak.
”Ibu mengajukan pinjaman dari pensiunan bapak”, jawab ibu.
Subhanallah, kakak kaget mendengar ulasan ibu.
”Ya udah kalo gitu saya tinggal cari kekurangannya aja”, jawab kakak.
Akhirnya kakak pun memenuhi kekurangan ongkos haji ibu.
Setelah proses pendaftaran dan segala sesuatunya selesai. Kakakpun menginformasikan kepada saya. Jelas saya protes berat.
Mengapa untuk urusan yang satu ini saya tidak dilibatkan, paling tidak – saya bisa ikut urunan mengongkosi ibu. Tapi kakak saya berkelit. ”Kalo untuk urusan membantu ibu dan saya mampu melakukannya buat apa saya harus minta tolong ke yang lain. Subhanallah, ajaran ibu begitu melekat pada diri kami semua.
Akhirnya ibupun berangkat haji ke tanah suci dengan selamat. Suatu hadiah yang tak ternilai dari Allah SWT bagi hambanya yang beriman.

Ditulis sebagai salah satu media mencurahkan isi hati sebagai cerminan rasa bakti saya kepada ayahanda Agus Sirad (almarhum) dan ibunda Rokayah tercinta di Bunderan Kijang Indramayu.

3 comments:

Anonymous said...

idos, tak disangka perjuangan hidupmu dan keluargamu sangat prihatin; ternyata lebih memprihatinkan dari perjuangan hidup orangtua saya....tapi syukur alhamdullilah tuhan yme selalu memberikan cobaan dengan segala ke-maha tahu-an dari kemampuan ciptaannya.....good story untuk selalu dikenang....saya tetanggamu dulu.......di paoman

madan sagala said...

Kisah yang penuh inspiraitf bagi pembaca. Semoga perjuangan anda membawa semangat positif buat saya.

abenk said...

penuh perjuangan.....
salam kenal........
check it out.. FOLLOW ME

Popular Posts