Thursday, February 18, 2010

Semoga Allah Meridoi


Empat setengah tahun terlewati sudah. Selama itu pula saya bergelut di medan asuransi syariah bersama Group Takaful Indonesia. Masih terngat 7 Februari 2005 adalah awal bergabungnya saya di group asuransi berbasis syariah yang pertama di Indoensia ini. Dan 12 Juli 2009 akhirnya saya memutuskan untuk resign dari group perusahaan yang telah memberikan banyak pelajaran buat saya, istri dan anak-anak semua.

Keputusan berat telah diambil, keputusan yang mungkin tidak popular (ambil istilahnya pilitikus) pun dengan terpaksa harus diajukan.
Masih terngiang di telinga ini, nasihat seorang sahabat karib teman kuliah di Fisika FMIPA UI, Agus Sudono seorang asli Pekalongan.
Saat ini beliau begitu sibuk berdakwah di dunia pendidikan bersama Nurul Fikri, group pelopor pendididkan islam modern saat ini.

Saat itu Agus Sudono menyampaikan nasihat
“Imam AlGhazali dalam sebuah bukunya menuliskan, ‘apabila kamu hendak mengambil keputusan maka tanyakanlah terlebh dahulu keputusan tsb pada hawa nafsumu, bila hawa nafsumu mengatakan YA, maka hindarilah keputusan tsb”.

Ya Allah semoga keputusanku bukanlah keputusan hawa nafsuku, Ya Allah semoga Engkau ridho terhadap keputusan ini.

Bagaimana tidak!, di Takaful lah saya mendapat pembelajaran tentang konsep kerja untuk ibadah, beda dengan konsep kerja adalah kehormatan sebagaimana diajarkan oleh orang Jepang ketika saya di SANYO.
Di Takaful pula saya mendapatkan pembelajaran bahwa kerja memiliki dimensi sosial. Di Takaful pula saya mendapatkan motivasi bahwa kemanfaatan lebih utama dibandingkan penghargaan.

Keputusan itupun saya ambil untuk dalam rangka meningkatkan kemanfaatan diri ini. Mata ini terbuka, hati ini pun terbuka bahwa nun di tanah kelahiran di sana, ada sekelompok masyarakat yang sangat membutuhkan kehadiran diri ini. Bahwa disana banyak orang yang membutuhkan sumbang tenaga, sumbang fikiran, sumbang ide-ide untuk kemajuan masyarakat Indramayu.
Ya Allah semoga Engkau meridhoi niat di hati ini. Ya Allah bersihkanlah niat ini agar terbebas dari segala kepentingan yang membelenggu akal dan fikiran sehat ini. Amin.


1 comment:

eka retnosari said...

di mata Allah, kenikmatan itu tidak mewujud rupiah. namun ia berupa lelah-lelah yang entah mengapa terasa nikmat.

Popular Posts